" Anna jangan lari-lari nanti jatuh!" " kamu juga ngak boleh makan es krim dan permen nanti batuk pilek!" " Anna jangan bermain pasir, jangan bermain air dll " " anna jangan bermain air dilantai nanti jatuh "
Banyak orang tua bersikap begitu karena orang tua terlalu khawatir akan keselamatan dan kesejahteraan putra/putrinya. rasa khawatir adalah lumrah asal tidak terlalu berlebihan.
orang tua terlalu protektif pada anaknya cenderung tidak memberikan tugas yang menumbuhkan kemandirian anak dan rasa tanggung jawab karena kekhawatirannya. dampaknya anak merasa tidak yakin bahwa mereka dapat melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya secara mandiri, anak jadi manja dan menolak melakukan sesuatu dengan sendirinya. misal kita kurang peduli bahwa penjelasan dan pengarahan kepada anak sangat penting sekali contoh pada puteri keciku ( saat ini berusia 2 tahun ), dimana anak akan menirukan perilaku orang tua yang ada disekitarnya mulai dari perbuatan, sikap dan ucapan. ketika kita lagi pada kumpul diruang keluarga, habis makan cemilan tiba-tiba...puteri kecilku membawa sampahnya ke dapur sambil lari terus mencari tempat sampah, saya tiba2 nyeletuk " eh mau dibawah kemana sampahnya ".. terlihat puteri kecilku sambil tertawa dan lari mencari temapt sampah dan dibuangnya sampah itu ke tempat sampah yang telah disediakan. perilaku itu pernah diajarkan oleh mama nya. sambil maen anak diajak bicara " anna selesai makan, kalo ada sampah harus dibuang ketempat sampah ya....( sambil mama nya menirukan gerakan cara membuang sampah ) ya... mama.. kata puteri kecilku. dari saat itu puteri kecilku udah mulai terbiasa untuk membuang sampah di tempat sampah walaupun kadang suka lupa juga yang penting adalah bagaimana kita selalu mengingatkan putra/putri kita. Erikson mengungkapkan anak berusia 6 tahun sampai 12 tahun adalah massa ketika anak mulai belajar untuk mandiri dan bertanggung jawab dimana anak selain dirinya sudah bisa bertanggung jawab terhadap lingkungannya misal menutup jendela rumah kalo sudah sore, mencuci piring, menyapu dll. sedangkan usia 3 sampai 6 tahun adalah masa anak memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap diri dan lingkungannya. pada usia ini mereka mencari tahu mengenai apa saja hal yang mampu ia lakukan maka secara tidak langsung akan belajar berbagai hal yang baru misalnya ketika bertemu teman main pasir, ya mereka akan bermaen pasir. jika kita terapkan pola asuh yang over protectif maka otomatis tumbuh kembang anak ada yang terganggu dan anak kurang mempunyai inisiatif dalam melakukan hal-hal yang baru Solusi dalam pola pengembangan anak adalah dengan memberikan alasan dan penjelasan yang bisa dimengerti oleh anak apa dampak buruknya, apa dampak baiknya dan segala hal sehingga anak sudah bisa membuat suatu keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri. misal ketika kita makan rujak yang pedes, kita ngak melarang puteri kecilku untuk ikut makan rujak tapi sebelumnya kita memberi peringatan" anna rujak ini pedes..huah..huaah...jadi anna ngak boleh makan rujak nanti kepedasan, plus bikin perut sakit. tapi namanya anak tetap aje dimakan tuh rujak. akhirnya dengan sendirinya puteri kecilku merasakan kepedasan dan akhirnya ngak mau makan lagi.. ma..mimik .. ma ..pedes... sambil ngobrol " lho benerkhan kata papa rujak plus sambalnya pedes.." lain waktu ketika kita makan rujak lagi puteri kecilku cuma ngomong" ma ruja pedes ya ma..ya ma... ketika kita tawarin dia ngak mau. intinya biarkan anak kita bermain, melakukan sesuatu asal dalam pengawasan kita, ketika terjadi sesuatu biarkan dia berekspresi ketika dia merasakan dampak negatifnya, masa yang akan dia akan maen yang sama cuma akan lebih waspada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar